KALIMANTAN Timur (Kaltim) sedang berada di jalur yang benar dalam pembangunan manusia. Indikator demi indikator menunjukkan tren positif. Harapan lama sekolah sudah mencapai 14,04 tahun.
Rata-rata lama sekolah berada di angka 10,10 tahun. Usia harapan hidup pun menyentuh 75,28 tahun. Ini bukan capaian biasa. Ini sinyal bahwa kualitas hidup masyarakat Kaltim terus membaik.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kaltim, Anik Nurul Aini, menyebut capaian tersebut sebagai hasil kerja kolektif lintas sektor yang konsisten.
Namun, ia tak menutup mata. Di tengah deretan angka positif itu, masih ada pekerjaan rumah yang belum selesai.
Prevalensi stunting di Kaltim masih berada di angka 15,94 persen. Angka ini memang menunjukkan perbaikan dibanding tahun-tahun sebelumnya, tetapi belum cukup untuk membuat semua pihak lega.
“Percepatan penurunan stunting terus dilakukan melalui intervensi lintas sektor yang terintegrasi dan berkelanjutan,” ujar Anik dalam keterangan resminya, Senin (13/4/2026).
Artinya, upaya tidak bisa setengah-setengah. Stunting bukan sekadar isu kesehatan, tetapi menyangkut masa depan generasi.
Di sisi lain, sektor pendidikan tampil sebagai primadona. Angka Partisipasi Kasar (APK) Kaltim menembus 95,59—tertinggi secara nasional. Capaian ini menegaskan satu hal: akses pendidikan di Kaltim semakin terbuka lebar.
Program-program strategis pemerintah daerah menjadi kunci. Salah satunya adalah program Bangga Kencana yang dijalankan bersama BKKBN. Program ini tidak hanya menyasar keluarga, tetapi juga mencakup siklus hidup secara utuh—mulai dari remaja, calon pengantin, hingga keluarga dengan balita dan lansia.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berada di angka 5,18 persen. Sementara itu, Indeks Pemberdayaan Gender (IPG) mencapai 61,41.
Angka ini menunjukkan bahwa ruang perbaikan masih terbuka, khususnya dalam pemberdayaan perempuan dan penciptaan lapangan kerja.
Menurut Anik, pembangunan manusia tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Fondasinya ada di tempat yang paling kecil—keluarga.
Penguatan ketahanan keluarga kini diperkuat melalui Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur Nomor 2 Tahun 2022. Implementasinya dilakukan lewat edukasi, pembinaan, hingga pemberdayaan ekonomi keluarga.
“Pembangunan keluarga harus menjadi prioritas bersama. Dari sanalah akan lahir generasi yang mampu bersaing, adaptif, dan berkarakter,” tegasnya. [DIAS]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















